aku tau..aku mencintamu betapa begitu aku menginginkanmu apapun itu.. aku tak mampu ungkap semua rasa itu padamu karena aku tak kan pernah mampu khianati cintaNya padaku aku memang merindumu tapi rinduku padaNya lebih menggebu aku memang ingin selalu bersamamu tapi nyatanya Dia yang tak pernah tinggalkanku kau juga tau.. pandanganku tak pernah ingin lepas darimu namun begitu tak pernah sedetikpun Dia palingkan pandangaNya dariku aku memang mencintamu tapi menjadi kekasihNya.. itu tujuanku
Sabtu, Januari 02, 2010
Kaum Muslimin Rahimakumullah, Haji adalah satu bentuk ibadah yang besar (haji akbar) dan merupakan syiar Allah yang besar. Allah SWT berfirman:
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Haji adalah satu bentuk ibadah yang besar (haji akbar) dan merupakan syiar Allah yang besar. Allah SWT berfirman:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. Al Hajj 27-29)
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Haji adalah syiar Islam terbesar, karena berkumpulnya jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia di tempat yang sama pada hari-hari yang sama untuk bersama-sama mendeklarasikan keberadaan mereka sebagai hamba Allah SWT, sebagai umat Nabi Muhammad saw.
Dalam melaksanakan hajinya pada tahun 10H, Rasulullah saw. bersama sekitar 120 ribu umat Islam berkumpul dan berombongan mengagungkan syiar-syiar Allah dengan menjalani seluruh manasik haji beliau, baik itu thawaf, sa’i, wukuf, maupun melempar jumrah, dan beliau menyembelih 100 ekor onta. Beliau berpidato di Arafah dengan pidato yang monumental. Yang menggambarkan kesempurnaan suatu umat dengan segala kemenangan yang dimiliki lantaran mengikuti risalah Allah yang sempurna.
Oleh karena itu, hari ini, alangkah besarnya bila syiar-syiar agama Allah yang telah ditetapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. itu diulang secara sempurna oleh umat Islam hari ini. Sungguh akan menjadi suatu syiar yang hebat luar biasa berwibawa jika pada tanggal 9 Dzul Hijjah 1430H di padang Arafah, di Namirah, ada seorang pemimpin umat Islam sedunia, Amirul Mukminin, yang menggantikan posisi Rasulullah saw., menyampaikan khutbah Arafah kehadapan seluruh jamaah haji yang berjumlah jutaan umat, dan diliput secara langsung disiarkan melalui TV dan radio ke seluruh dunia agar bisa disaksikan oleh 1,5 milyar umat Islam yang ada di kampung halaman masing-masing, dan bisa dilihat oleh umat-umat lain.
Dan siaran langsung itu mestinya sudah bisa dilakukan sejak penetapan tanggal 1 Zulhijjah. Para ulama besar dan pemimpin dunia bisa ditampilkan untuk menyampaikan pesan-pesan agar umat ini memanfaatkan besarnya pahala berbagai amal sholih sejak awal bulan zulhijah. Ini adalah pengajaran amal sholih yang langsung, efektif dan efisien. Demikian juga siaran langsung penuh untuk seluruh manasik haji agar menjadi pelajaran praktis yang mudah dipahami dan diingat oleh umat disamping mereka ikut merasakan kebesaran syiar-syiar ibadah haji dan Idul Adha.
Bahkan ketika jamaah haji menyembelih kurban pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) setelah melempar jumrah, umat Islam di seluruh dunia mengikutinya dengan sholat Idul Adha dan menyembelih kurban, Dan umat Islam tua muda, kaya miskin, sama-sama bergembira merayakan hari raya selama 4 hari berturut-turut, yakni merayakan Idul Adha yang disambung dengan 3 hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah).
Tentu ini merupakan syiar yang luar biasa, yang pasti akan meningkatkan ketaqwaan umat Islam, kemulian dan kebanggaan mereka sebagai umat Islam, serta menguatkan semangat dakwah mereka, dan sekaligus akan membuat ciut hati kaum kafir dan munafiq yang senantiasa dengki akan kebesaran dan kejayaan Islam dan umat Islam.
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Namun pertanyaannya, siapa yang berani menggantikan posisi Rasulullah saw. tersebut? Siapa yang akan memberikan wewenang kepada yang bersangkutan?
Rasanya sampai hari ini pihak yang berwenang di seluruh dunia Islam belum pernah memberikan tanda-tanda kepada hal itu. Masing-masing mempertahankan otoritas negara dan bangsanya masing-masing. Bahkan kalau saja OKI mau bersidang membahas hal ini dan menunjuk salah seorang di antara kepala negara dunia Islam yang jumlahnya lebih dari 50 negara, lalu menggilir satu persatu tiap tahun untuk melakukan hal itu, sungguh ini suatu capaian yang luar biasa. Sebab hal itu, benar-benar pengagungan syiar-syiar Allah. Dan Allah SWT telah berfirman:
Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al Hajj 32).
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Kesatuan ibadah ritual manasik haji dari talbiyah hingga menyembelih binatang Qurban saja apabila dikelola dengan penuh ketaqwaan dan kesungguhan sudah pasti akan menghasilkan syiar yang luar biasa besarnya dan gaungnya pasti akan menggema ke seantero bumi. Apalagi jika hikmah yang diperoleh pada pelaksanaan haji itu seperti ta’aruf (perkenalan) antara jamaah maupun tijaroh (perdagangan) antar mereka bisa dikelola secara baik tentu hasilnya adalah akan tumbuh kesatuan dunia Islam dalam bidang sosial politik dan ekonomi.
Inilah yang apabila dikelola atas dasar taqwa dan cita-cita persatuan umat akan mengantarkan umat Islam pada kesatuan dunia Islam di bawah panji-panji tauhid Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Kalau dulu Rasulullah saw. telah menyatukan umat di Arafah pada haji wada’. Kalau dulu Khalifah Umar bin Khaththab mengadakan rapat dengan para wali (gubernur) setiap musim haji. Siapa yang akan melanjutkan tradisi mulia itu?
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Tidak bisa kita harap kecuali munculnya kekuasaan dari orang- orang yang mukmin, orang-orang yang berpegang teguh kepada ideologi Islam. Hari ini kita disibukkan dengan pertarungan “cicak-buaya” yang sesungguhnya tidak akan mengubah apa-apa. Mungkin akan ada perubahan orang, tapi tidak akan ada perubahan sistem. Selama sistem sekuler yang menyusu kepada kaum neolib AS dan konco-konconya, biang sekularisasi dan imperialisme dunia, maka umat ini akan tetap hidup sengsara. Hukum yang diterapkan aparat dan berbagai kebijakan pemerintah tidak akan pernah berpihak kepada umat!
Oleh karena itu, harus ada perubahan yang mendasar yang didasari oleh nilai-nilai spiritual yang muncul dari keimanan yang murni kepada Allah SWT, Dzat yang telah menciptakan manusia dan yang telah menurunkan Al Quran dan Sunnah untuk menjadi petunjuk hidup dan hukum bagi umat manusia. Bila manusia berpaling, pasti akan dirundung kesengsaraan. Dia SWT berfirman:
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
(QS. Thaha 124).
Baarakallahu lii walakum
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar