Kurun demi kurun sejarah, kaum Muslimin telah melakukan lompatan yang sanggup memadati seantero bumi dengan kekuatan, keberanian, hikmah kebijakan, ilmu pengetahuan, cahaya, dan petunjuk. Mereka berhasil menguasai berbagai bangsa, menaklukkan para penguasa, dan mengibarkan bendera di tengah-tengah Asia, di belantara Afrika, dan di pelosok-pelosok Eropa. Di sana mereka menorehkan syari’at Islam, bahasa Al-Qur’an, ilmu, dan peradaban yang mempesona hati. Menjadi bahan perbincangan dari mulut ke mulut, menjadi contoh yang tiada duanya, dan menjadi tuntunan tertinggi bagi seluruh umat manusia, karena mereka dianggap sebagai segolongan umat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Padahal sebelumnya mereka adalah kelompok-kelompok yang tercerai-berai yang tidak punya aturan, tidak punya pijakan, tidak punya ilmu, dan tidak punya syari’at sama sekali.
Dalam catatan sejarah kaum Muslimin telah menempuh perjalanan yang sangat indah dan mengagumkan. Mereka mengenal dengan baik liku¬-liku jalan yang mengantarkan mereka pada kemuliaan serta kebahagiaan dunia akhirat. Dengan penuh percaya diri mereka meniti jalan tersebut dengan ke¬kuatan yang luar biasa. Hal itu lantaran mereka memiliki kekuatan ilmu yang luar biasa. Mereka mengenal dengan cermat rambu-rambu jalan yang mereka tempuh. Seolah-olah mereka memiliki peta lengkap yang mereka simpan dalam kekuatan ilmu mereka, sebagai bekal untuk mencapai tujuan mereka untuk sekaligus dapat memiliki kekuatan amal. Kendatipun demikian mereka tetap sadar, bahwa tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah.
Ilmu dan kehendak yang kuat adalah rahasia kebesaran kaum Muslimin sekaligus kunci keberhasilan mereka mengungguli umat-umat yang lain. Bagi kita, ilmu adalah segalanya. Ilmulah yang sanggup menaklukkan para penguasa, para politisi, harta, dan pena. Kekuatan tanpa didasari ilmu akan tumbang. Senjata tanpa didasari ilmu akan memakan tuan sendiri. Dan pena tanpa didasari ilmu adalah usaha yang sia-sia. Ilmu sanggup menguasai semua itu, dan tidak ada yang akan abadi tanpa ilmu.
Tidak akan ada habis-habisnya kalau kita membicarakan ilmu. Pembi¬caraan tentang ilmu akan sangat panjang. Keutamaan tentang ilmu dan an¬juran untuk memilikinya sudah ditulis oleh para penulis sejak zaman dahulu sampai sekarang dalam karya-karya mereka. Tetapi yang menjadi target pem¬bahasan ini adalah menyoroti kehebatan pasangan ilmu dalam meraih ke¬muliaan dan menghidupkan umat, yakni kekuatan untuk beramal, atau hasrat, atau cita-cita.
Hentakan Awal
Al-hammu berarti sesuatu yang diminati untuk dikerjakan. Alhimmat adalah faktor yang mendorong untuk mengerjakannya.
Disebutkan dalam Al-Mishbah, alhimmat adalah hasrat awal. Lazimnya, yang dimaksud ialah hasrat yang kuat atau bisa disebut cita-cita yang tinggi.
Ada yang mengatakan, definisi uluwwu alhimmat atau cita-cita yang tinggi ialah menganggap kecil hal-hal yang tinggi, yang belum tercapai.’ Ada pula yang mengatakan, definisi uluwwu alhimmat ‘cita-cita yang tinggi’ ialah hasrat jiwa untuk mencapai tujuan maksimal yang memungkinkan, baik di bidang ilmu maupun amal. [1]
Al Jurjani dalam Al-Ta’rifat mengatakan, “Alhammu adalah ‘tekad hati’ untuk melakukan sesuatu, baik berupa kebajikan atau kejahatan yang belum dilakukan. “Dan alhimmatu ialah mengarahkan hati dengan segenap potensi dan kekuatan spiritualnya yang ada untuk mendapatkan kesempurnaan pada jalan kebenaran bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Ibnu AI-Qayyim dalam kitabnya madarij as-salikin mengatakan Hammu adalah hasrat awal, dan himmah adalah hasrat akhir.”
Ibnu Qayyim berkata dalam mengomentari firman Allah dalam sebuah kutipan hadits qudsi: Sesungguhnya Aku tidak memandang pada ucapan orang yang bijaksana, tetapi Aku hanya memandang pada himmahnya, “Aku pernah mendengar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Orang¬orang awam mengatakan, `Nilai setiap seseorang itu terletak pada apa yang ia lakukan dengan balk. Sementara orang-orang khusus mengatakan, `Nilai setiap orang itu terletak pada apa yang la cari’.”
Penulis kitab AI-Manazil mengatakan, “Himmah ialah suatu karakter yang mendominasi untuk mencapai maksud sehingga orang yang bersangkutan tidak sanggup mengekang dan berpaling darinya.”
Maksudnya, jika himmah seseorang telah tertuju pada pencarian kepada Allah Ta’ala, itulah yang disebut himmah yang tinggi. Dan orang yang bersangkutan tidak akan sanggup mengabaikannya karena la sudah didominasi oleh hasratnya yang kuat untuk mencari apa yang dituju. Selain itu, ia juga tidak bisa berpaling dari ketetapan-ketetapannya. Orang yang punya himmah seperti itu, la akan lekas sampai dan memperoleh apa yang dicarinya, asalkan tidak dihadang oleh kendala-kendala dan tidak dipotong oleh ketergantungan-¬ketergantungan pada kepentingan lain. Wallahu a’lam.
Ibnul Qayyim juga mengatakan, “Cita-cita yang tinggi itu tidak akan berhenti pada selain Allah, tidak akan dapat ditukar oleh sesuatu pun selain¬Nya, tidak akan puas kepada yang lain sebagai ganti-Nya, dan tidak akan menjual segala karunia Allah berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang hina dan fana.
Cita-cita yang tinggi laksana seekor burung yang terbang melayang cukup tinggi. la tidak mau turun sebelum sampai pada tujuannya. Semakin tinggi, la akan jauh dari hal-hal yang dapat menghalanginya. Akan tetapi, jika la sampai turun, berbagai rintangan dari mana-mana akan mengham¬pirinya. Akibatnya, la tidak bisa terbang ke tempat yang tinggi lagi, tetapi akan tertarik berada di tempat yang rendah. Bagi seseorang, cita-cita yang tinggi adalah lambang keberuntungannya. Sebaliknya, cita-cita yang rendah adalah lambang kebinasaannya.”
Himmah adalah pelopor dan mukadimah amal. Seorang shalihin mengatakan .: Jagalah himmahmu karena sesungguhnya himmah adalah pengantar segala sesuatu. Barangsiapa yang himmahnya baik dan ia jujur padanya, niscaya amal-amal di belakangnya pun menjadi baik.”
Ubaidillah bin Ziyad bin Thabyan mengatakan, “Aku punya paman dari suku Kalb. la pernah berpesan kepadaku, `Hai Ubaid, jagalah himmah¬mu karena sesungguhnya hal itu adalah separuh sifat keperwiraan’.”
Himmah Itu Lahir Bersama Manusia
Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Laftat Al-Kabid Ila Nashihat AI-Walad mengatakan,”Himmah itu hanya akan berhenti di tangan orang-orang yang memandangnya rendah. Jika Anda bukan termasuk mereka, jangan puas dengan himmah yang rendah. Bukti menunjukkan bahwa himmah itu lahir bersama manusia. Suatu saat himmah itu sangat boleh jadi akan mogok. Walaupun demikian, jika didorong la akan berjalan lagi. Oleh karena itu, jika Anda merasa diri Anda lemah, mohonlah kekuatan kepada Allah Sang Pemberi kekuatan. Atau jika Anda sedang malas, mohonlah pertolongan kepada Allah Sang Pemberi pertolongan. Akan tetapi, Anda sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan tanpa mau taat kepada-Nya. Allah Mahatahu segala kehendak orang yang datang kepada-Nya dan orang yang berpaling dari-Nya. Masing-masing mereka akan memperoleh bagian yang adil.”
Mengenai himmah yang suatu saat bisa mogok-karena alasan lemah, atau malas, terpengaruh oleh godaan setan, menuruti keinginan, tunduk pada hawa nafsu yang menyuruh berbuat jahat, dan lain sebagainya-maka perlu ada upaya untuk menggugah dan menyadarkan himmah supaya terlecut semangatnya untuk meraih keridhaan Allah, meraih nikmat yang abadi, dan supaya timbul rasa takut pada ancaman siksa-Nya. Itulah yang pernah dilaku¬kan oleh seorang pahlawan Islam yang tidak diketahui namanya, namun Allah pasti mengetahuinya.
Bersumber dari Abdullah bin Qais, dari Abu Umayyah Al-Ghifari, ia berkata, “Kami sedang dalam peperangan. Ketika musuh datang, ada yang berteriak di tengah-tengah kami. Seketika kami sama melompat ke tempat berbaris kami. Mendadak ada seorang lelaki yang tepat berada di depanku. Kepala kudaku hampir menyentuh pantat kudanya. Aku mendengar la ber¬cakap-cakap dengan dirinya sendiri. la bertanya, `Hai diri, apakah kamu tidak menyaksikan tempat gugur para pahlawan syahid itu?’ Lalu dijawab sendiri, Ya. Aku menyaksikannya.’ ‘Lalu bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?’ Aku menurut saja padamu. Akan tetapi, apa kamu tidak ingin aku pulang dengan selamat?’ la mengulangi lagi pertanyaan, `Hai diri! Apakah kamu tidak menyaksikan tempat gugur para pahlawan syahid itu?’ Lalu dijawab sendiri, ‘Ya. Aku menyaksikannya.’ ‘Lalu bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?’ Aku menurut saja padamu. Akan tetapi, apa kamu tidak ingin aku pulang dengan selamat?’ la berkata, `Hai diri! Demi Allah, hari ini akan aku pertaruhkan kamu. Entah bagaimana nasibmu.’ Ia menjawab sendiri, `Hari ini aku siap.’
Ketika kami mulai menyerang musuh, lelaki itu berada di barisan terdepan kami. Dan ketika musuh berbalik menyerang kami sehingga kami terdesak mundur, ia berada di garis pertahanan kami. Ketika kami menyerang mereka lagi, kembali ia berada di barisan terdepan kami. Dan ketika giliran mereka yang menyerang kami sehingga kami terdesak mundur, ia juga berada di garis pertahanan kami. Hal itu terus ia lakukan berulang kali, sampai akhirnya aku lihat ia tergeletak tak bernyawa. Pada tubuhnya dan juga pada tubuh kudanya aku hitung ada lebih dari enam puluh bekas tusukan senjata tajam.”
Bagi Orang Yang Menempuh Jalan Allah Ia Harus Punya Himmah Yang Menggerakkan dan Mengangkatnya Serta Memiliki Ilmu Yang Mengarahkan dan Membimbingnya.
Imam Ibnul Qayyim AI-Jauziyah Rahimahullahu mengatakan, “Sesungguhnya ketika Allah Ta’ala berketetapan mengeluarkan Adam dan keturunannya dari surga-sesuai dengan tuntutan hikmah kebijaksanaan serta rahmat-Nya-Dia memberikan ganti kepada mereka yang lebih balk dari¬padanya. Yaitu, Allah memberikan kepada mereka janji-Nya yang menjadi sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dan jalan terang yang membimbing mereka kepada-Nya. Siapa yang berpegang padanya, niscaya ia akan beruntung dan mendapatkan petunjuk. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya, niscaya ia akan celaka dan tersesat. Akan tetapi, janji yang mulia, jalan yang lurus, dan berita yang besar hanya akan bisa dicapai lewat pintu ilmu dan kehendak. Kehendak adalah pintu yang dapat mengantarkan kepadanya, sedangkan ilmu adalah kunci pintu tersebut. Kesempurnaan setiap orang, itu tergantung pada kesempurnaan pada dua hal, yakni: himmah yang mengangkatnya dan ilmu yang memperkenalkan serta membimbingnya. Sesungguhnya seorang hamba yang tidak mencapai jenjang kebahagiaan dan keberuntungan adalah karena dua hal tersebut, atau salah satunya. Mungkin ia tidak punya pengetahuan tentangnya sehingga la tidak tergerak mencarinya. Atau ia punya pengetahuan, tetapi himmahnya tidak bangkit menuju padanya sehingga la selalu tertahan pada kerendahan wataknya dan pada ketidaksempurnaan hatinya yang sebenarnya diciptakan untuk tunduk kepadanya. Akibatnya, la menjadi orang yang mengabaikan kenikmatan-kenikmatan, malas, dan lemah. Bukan menjadi orang yang diangkat derajatnya berkat ilmu, siap meniti jalan kebenaran meski sendirian, istiqamah, sangat mendambakan bisa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yang sangat menginginkan teman-teman yang mau menyertainya menempuh jalan Allah.
Kehendak yang sempurna dan ilmu yang mulia pada gilirannya akan memberikan kebahagiaan yang sejati dan kehidupan yang hakiki kepada seorang hamba. Kehendaknya akan selalu bergantung kepada Allah dan hasrat himmahnya akan menuju ke hadirat Allah Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Dan untuk mencapai tujuan paling luhur tersebut tidak ada jalan lain, kecuali dengan ilmu yang Allah berikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya yang terkasih, yang Dia utus sebagai penyeru, sebagai penunjuk jalan yang benar, dan sebagai perantara antara Allah dan manusia. Dengan izin Allah beliau mengajak mereka menuju surga, negeri kedamaian. Allah tidak berkenan membukakan pintu surga kepada siapapun dari mereka, kccuali oleh tangan beliau. Bahkan, Allah tidak berkenan menerima usaha siapapun dari mereka, kecuali sesuai dengan petunjuk beliau dan berhenti pada beliau.
Jenis-Jenis Manusia Dari Segi Kekuatan Ilmu dan Amal
Ibnu AI-Qayyim Rahimahullahu mengatakan, “Inti kesempurnaan hamba itu ada dua macam, yakni: mengetahui yang haq dari yang batil, dan mengutamakan yang haq dari yang batil.”
“Perbedaan kedudukan manusia disisi Allah baik didunia maupun di akhirat, tiada lain karena perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal itu. Orang-orang semacam itulah yang dipuji oleh Allah lewat para Nabi-Nya Alahimus Shalatu Wassalam dalam firman-Nya, “Dan, ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.”(Shaad: 45)
AI-Aydi di dalam ayat tadi berarti orang-orang yang kuat dalam melak¬sanakan kebenaran. Adapun AI-Basha’ir berarti bashirah dalam agama. Allah menyifatkan mereka sebagai orang-orang yang memiliki kesempurnaan pengetahuan tentang kebenaran dan kesempurnaan pelaksanaannya. Dalam masalah ini, manusia dibagi menjadi empat macam:
1. Para nabi. Mereka itu adalah orang-orang yang paling mulia dan go¬longan manusia yang paling terhormat di sisi Allah.
2. Kebalikan daripada nabi. Yakni orang-orang yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksana¬kannya. Mereka merupakan golongan mayoritas manusia. Memandang mereka membuat mata menjadi perih, jiwa merinding, hati menjadi sakit, dada menjadi sesak. Bergaul dengan mereka hanya mendatangkan aib dan cela.
3. Orang-orang yang memiliki bashirah dan pengetahuan tentang kebe¬naran, namun lemah dan tidak memiliki kekuatan dalam melaksanakan kebenaran dan tidak mampu menyeru kepadanya. Ini adalah keadaan orang Mukmin yang lemah. Sementara orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mukmin yang lemah.
4. Orang yang tidak memiliki kekuatan, hasrat, kehendak, dan juga lemah bashirahnya tentang agama. Mereka hampir tidak mampu membedakan antara wali Ar-Rahman dan wali setan. Dia menganggap semua yang hitam adalah buah korma, menganggap setiap warna putih adalah lemak, menganggap infeksi sebagai lemak, dan menganggap obat pena¬war sebagai racun.
Tidak ada yang layak dijadikan pemimpin dalam agama dan mendapatkan posisi yang sangat terhormat tersebut, selain golongan yang pertama. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. ” (As Sajadah: 24)
Allah mengabarkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka mendapatkan kepemimpinan dalam agama. Mereka ini merupakan orang¬orang yang dikecualikan di antara orang-orang yang merugi. Bahkan, Allah bersumpah demi masa bahwa selain mereka adalah orang-orang yang merugi. Allah Ta’ala berfirman,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjahan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. “
Ibnul Qayyim Rahimahullahu juga mengatakan, “Di antara manusia ada orang yang memiliki kekuatan ilmu, yang mampu membuka mata hatinya untuk melihat jalan kebenaran, letaknya, tanda-tandanya, kendala-kendalanya, dan rintangan-rintangannya. Hal tersebut merupakan satu satu di antara ke¬kuatan yang mendominasinya. Akan tetapi, di sisi lain la lemah alias tidak punya kekuatan amal. la memang melihat kebenaran, namun la tidak mau mengamalkan tuntutannya. la melihat kerusakan, hal-hal yang menakutkan, dan hal-hal yang menghancurkan, namun ia tidak mau bersikap hati-hati menjaganya. la memang seorang ahli fiqih ketika tidak sedang berhadapan dengan amal. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan amal, la mundur bersa¬ma orang-orang bodoh. Namun, berbeda dengan orang-orang bodoh dalam hal ilmu. Itulah problem yang sering dialami oleh orang-orang yang terlalu fokus pada masalah ilmu saja. Orang yang selamat ialah yang selalu dijaga oleh Allah, dan tidak ada kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah.”
Di antara manusia ada juga orang yang memiliki kekuatan kehendak amal yang luar biasa sehingga mampu mendominasinya. Bahkan, kekuatan ini menuntutnya berperilaku zuhud yang salah di dunia, cenderung mengutamakan akhirat, dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Akan tetapi, pandangannya buta terhadap kerancuan-kerancuan dalam akidah, dan penyimpangan¬pcnyimpangan dalam bentuk perbuatan dan ucapan. Kalau orang yang pertama tadi akalnya lemah ketika berhadapan dengan kesenangan-kesenangan nafsu, maka orang model ini kalah karena memang bodoh. Penyakit yang pertama berasal dari kehendaknya yang rusak serta akalnya yang lemah. Inilah yang lazim dialami oleh para ulama sufi yang tidak menempuh jalan ilmu, melainkan jalan perasaan, batin, dan tradisi. Ada di antara mereka yang ti¬dak tahu apa yang dicari? Tidak mengerti kepada siapa ia beribadah? Bah¬kan, la tidak paham berdasarkan apa la beribadah. Terkadang ia beribadah berdasarkan perasaan dan batinnya. Terkadang la beribadah berdasarkan tradisi kaumnya dan juga teman-temannya. Misalnya, temannya mengharuskan memakai pakaian tertentu, menjulurkan celana melampaui mata kaki, mencukur jenggot, dan lain sebagainya. Terkadang pula ia beribadah berdasarkan pengaruh situasi yang diciptakan oleh sebagian orang-orang yang sok tahu, padahal tidak ada dasar¬nya sama sekali dalam agama. Dan terkadang la beribadah berdasarkan keinginannya sendiri, apapun bentuknya. Itulah jalan-jalan sesat yang akan diperhitungkan oleh Allah, Tuhan sekalian alam.
Mereka semua itu adalah orang-orang yang buta terhadap Tuhan mereka berikut syari’at dan agama-Nya. Mereka tidak tahu syari’at dan agama Allah yang karenanya Dia mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab suci, dan tidak berkenan menerima agama dari siapapun selainnya. Mereka juga tidak tahu sifat-sifat Tuhan mereka, yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba¬Nya lewat lisan para Rasul-Nya.
Barangsiapa memiliki dua kekuatan tersebut, la akan berjalan lurus, iancar, dan kuat dalam menghadapi semua rintangan. Semua itu berkat per¬tolongan Allah. Sesungguhnya banyak sekali rintangan-rintangan mengha¬adang, yang sangat berat dan sulit. Jarang sekali yang berhasil selamat melewatinya. Seandainya tidak ada rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan, tentu jalan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang menempuhnya. Kalau mau, Allah bisa menghilangkan rintangan dan hambatan-hambatan tersebut. Allah akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Ada yang mengatakan, “Waktu adalah pedang. Kalau kamu tidak menggunakannya, niscaya la akan memenggalmu.”
Jika dalam menempuh perjalanan menuju Allah bermodalkan himmah dan ilmu yang lemah-sementara hambatan yang datang dari dalam maupun dari luar cukup banyak dan berat-niscaya hal itu merupakan usaha yang akan menimbulkan bencana, tangga yang mengantarkan pada kecelakaan, dan upaya yang mengundang kegembiran para musuh, kecuali jika Allah segera menyusulinya dengan rahmat-Nya yang tidak disangka-sangkasehingga Allah berkenan menggandeng tangannya dan menyelamatkannya dari semua hambatan tersebut. Dan di tangan Allahlah letak pertolongan.
Himmah Itu Ada di Hati
Himmah adalah pekerjaan hati, dan yang dapat menguasai hati adalah pemiliknya sendiri. Sebagaimana burung yang terbang dengan menggunakan sepasang sayapnya, manusia terbang dengan menggunakan himmah atau hasratnya yang akan membawanya ke puncak tertinggi. la lepas dari segala ikatan yang membelenggu jasad.
Biar saja kaum itu merebut kekuasaanku
dan menjerumuskan aku dalam penderitaan,
asalkan bukan hati, semangat, dan cita-citaku
Ibnu Qutaibah mengutip dari sebuah kitab tentang himmah, “Orang yang punya hasrat, jika direndahkan jiwanya akan memberontak untuk tetap naik. Laksana nyala lilin yang ditiup, lidah apinya malah akan membumbung tinggi.”
…………bersambung insyaallah…
1 Shaid Al-Khathit; oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 189, Menjelaskan maknanya is mengatakan, “Bagi orang yang memiliki harga diri sedapat mungkin is harus memiliki target yang maksimal. Artinya, jika ia merasa yakin sanggup meraih predikat sebagai nabi , misalnya (walau hal ini mustahil”, ia tidak boleh merasa puas hanya dengan rneraih predikat sebagai wali. Atau jika merasa yakin sanggup menjadi seorang khalifah, ia tidak boleh merasa puas dengan hanya menjadi seorang amir atau gubernur. Atau jika ia merasa yakin bisa menjadi raja, misalnya, ia tidak boleh merasa puas dengan hanya menjadi rakyat biasa. Dengan kata lain, ia harus mengerahkan segala jerih payah serta kemampuannya untuk meraih segala sesuatu yang memungkinkan, baik di bidang ilmu maupun amal
Dalam catatan sejarah kaum Muslimin telah menempuh perjalanan yang sangat indah dan mengagumkan. Mereka mengenal dengan baik liku¬-liku jalan yang mengantarkan mereka pada kemuliaan serta kebahagiaan dunia akhirat. Dengan penuh percaya diri mereka meniti jalan tersebut dengan ke¬kuatan yang luar biasa. Hal itu lantaran mereka memiliki kekuatan ilmu yang luar biasa. Mereka mengenal dengan cermat rambu-rambu jalan yang mereka tempuh. Seolah-olah mereka memiliki peta lengkap yang mereka simpan dalam kekuatan ilmu mereka, sebagai bekal untuk mencapai tujuan mereka untuk sekaligus dapat memiliki kekuatan amal. Kendatipun demikian mereka tetap sadar, bahwa tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah.
Ilmu dan kehendak yang kuat adalah rahasia kebesaran kaum Muslimin sekaligus kunci keberhasilan mereka mengungguli umat-umat yang lain. Bagi kita, ilmu adalah segalanya. Ilmulah yang sanggup menaklukkan para penguasa, para politisi, harta, dan pena. Kekuatan tanpa didasari ilmu akan tumbang. Senjata tanpa didasari ilmu akan memakan tuan sendiri. Dan pena tanpa didasari ilmu adalah usaha yang sia-sia. Ilmu sanggup menguasai semua itu, dan tidak ada yang akan abadi tanpa ilmu.
Tidak akan ada habis-habisnya kalau kita membicarakan ilmu. Pembi¬caraan tentang ilmu akan sangat panjang. Keutamaan tentang ilmu dan an¬juran untuk memilikinya sudah ditulis oleh para penulis sejak zaman dahulu sampai sekarang dalam karya-karya mereka. Tetapi yang menjadi target pem¬bahasan ini adalah menyoroti kehebatan pasangan ilmu dalam meraih ke¬muliaan dan menghidupkan umat, yakni kekuatan untuk beramal, atau hasrat, atau cita-cita.
Hentakan Awal
Al-hammu berarti sesuatu yang diminati untuk dikerjakan. Alhimmat adalah faktor yang mendorong untuk mengerjakannya.
Disebutkan dalam Al-Mishbah, alhimmat adalah hasrat awal. Lazimnya, yang dimaksud ialah hasrat yang kuat atau bisa disebut cita-cita yang tinggi.
Ada yang mengatakan, definisi uluwwu alhimmat atau cita-cita yang tinggi ialah menganggap kecil hal-hal yang tinggi, yang belum tercapai.’ Ada pula yang mengatakan, definisi uluwwu alhimmat ‘cita-cita yang tinggi’ ialah hasrat jiwa untuk mencapai tujuan maksimal yang memungkinkan, baik di bidang ilmu maupun amal. [1]
Al Jurjani dalam Al-Ta’rifat mengatakan, “Alhammu adalah ‘tekad hati’ untuk melakukan sesuatu, baik berupa kebajikan atau kejahatan yang belum dilakukan. “Dan alhimmatu ialah mengarahkan hati dengan segenap potensi dan kekuatan spiritualnya yang ada untuk mendapatkan kesempurnaan pada jalan kebenaran bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Ibnu AI-Qayyim dalam kitabnya madarij as-salikin mengatakan Hammu adalah hasrat awal, dan himmah adalah hasrat akhir.”
Ibnu Qayyim berkata dalam mengomentari firman Allah dalam sebuah kutipan hadits qudsi: Sesungguhnya Aku tidak memandang pada ucapan orang yang bijaksana, tetapi Aku hanya memandang pada himmahnya, “Aku pernah mendengar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Orang¬orang awam mengatakan, `Nilai setiap seseorang itu terletak pada apa yang ia lakukan dengan balk. Sementara orang-orang khusus mengatakan, `Nilai setiap orang itu terletak pada apa yang la cari’.”
Penulis kitab AI-Manazil mengatakan, “Himmah ialah suatu karakter yang mendominasi untuk mencapai maksud sehingga orang yang bersangkutan tidak sanggup mengekang dan berpaling darinya.”
Maksudnya, jika himmah seseorang telah tertuju pada pencarian kepada Allah Ta’ala, itulah yang disebut himmah yang tinggi. Dan orang yang bersangkutan tidak akan sanggup mengabaikannya karena la sudah didominasi oleh hasratnya yang kuat untuk mencari apa yang dituju. Selain itu, ia juga tidak bisa berpaling dari ketetapan-ketetapannya. Orang yang punya himmah seperti itu, la akan lekas sampai dan memperoleh apa yang dicarinya, asalkan tidak dihadang oleh kendala-kendala dan tidak dipotong oleh ketergantungan-¬ketergantu
Ibnul Qayyim juga mengatakan, “Cita-cita yang tinggi itu tidak akan berhenti pada selain Allah, tidak akan dapat ditukar oleh sesuatu pun selain¬Nya, tidak akan puas kepada yang lain sebagai ganti-Nya, dan tidak akan menjual segala karunia Allah berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang hina dan fana.
Cita-cita yang tinggi laksana seekor burung yang terbang melayang cukup tinggi. la tidak mau turun sebelum sampai pada tujuannya. Semakin tinggi, la akan jauh dari hal-hal yang dapat menghalanginya. Akan tetapi, jika la sampai turun, berbagai rintangan dari mana-mana akan mengham¬pirinya. Akibatnya, la tidak bisa terbang ke tempat yang tinggi lagi, tetapi akan tertarik berada di tempat yang rendah. Bagi seseorang, cita-cita yang tinggi adalah lambang keberuntungannya. Sebaliknya, cita-cita yang rendah adalah lambang kebinasaannya.”
Himmah adalah pelopor dan mukadimah amal. Seorang shalihin mengatakan .: Jagalah himmahmu karena sesungguhnya himmah adalah pengantar segala sesuatu. Barangsiapa yang himmahnya baik dan ia jujur padanya, niscaya amal-amal di belakangnya pun menjadi baik.”
Ubaidillah bin Ziyad bin Thabyan mengatakan, “Aku punya paman dari suku Kalb. la pernah berpesan kepadaku, `Hai Ubaid, jagalah himmah¬mu karena sesungguhnya hal itu adalah separuh sifat keperwiraan’.”
Himmah Itu Lahir Bersama Manusia
Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Laftat Al-Kabid Ila Nashihat AI-Walad mengatakan,”Himmah itu hanya akan berhenti di tangan orang-orang yang memandangnya rendah. Jika Anda bukan termasuk mereka, jangan puas dengan himmah yang rendah. Bukti menunjukkan bahwa himmah itu lahir bersama manusia. Suatu saat himmah itu sangat boleh jadi akan mogok. Walaupun demikian, jika didorong la akan berjalan lagi. Oleh karena itu, jika Anda merasa diri Anda lemah, mohonlah kekuatan kepada Allah Sang Pemberi kekuatan. Atau jika Anda sedang malas, mohonlah pertolongan kepada Allah Sang Pemberi pertolongan. Akan tetapi, Anda sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan tanpa mau taat kepada-Nya. Allah Mahatahu segala kehendak orang yang datang kepada-Nya dan orang yang berpaling dari-Nya. Masing-masing mereka akan memperoleh bagian yang adil.”
Mengenai himmah yang suatu saat bisa mogok-karena alasan lemah, atau malas, terpengaruh oleh godaan setan, menuruti keinginan, tunduk pada hawa nafsu yang menyuruh berbuat jahat, dan lain sebagainya-maka perlu ada upaya untuk menggugah dan menyadarkan himmah supaya terlecut semangatnya untuk meraih keridhaan Allah, meraih nikmat yang abadi, dan supaya timbul rasa takut pada ancaman siksa-Nya. Itulah yang pernah dilaku¬kan oleh seorang pahlawan Islam yang tidak diketahui namanya, namun Allah pasti mengetahuinya.
Bersumber dari Abdullah bin Qais, dari Abu Umayyah Al-Ghifari, ia berkata, “Kami sedang dalam peperangan. Ketika musuh datang, ada yang berteriak di tengah-tengah kami. Seketika kami sama melompat ke tempat berbaris kami. Mendadak ada seorang lelaki yang tepat berada di depanku. Kepala kudaku hampir menyentuh pantat kudanya. Aku mendengar la ber¬cakap-cakap dengan dirinya sendiri. la bertanya, `Hai diri, apakah kamu tidak menyaksikan tempat gugur para pahlawan syahid itu?’ Lalu dijawab sendiri, Ya. Aku menyaksikannya.’ ‘Lalu bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?’ Aku menurut saja padamu. Akan tetapi, apa kamu tidak ingin aku pulang dengan selamat?’ la mengulangi lagi pertanyaan, `Hai diri! Apakah kamu tidak menyaksikan tempat gugur para pahlawan syahid itu?’ Lalu dijawab sendiri, ‘Ya. Aku menyaksikannya.’ ‘Lalu bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?’ Aku menurut saja padamu. Akan tetapi, apa kamu tidak ingin aku pulang dengan selamat?’ la berkata, `Hai diri! Demi Allah, hari ini akan aku pertaruhkan kamu. Entah bagaimana nasibmu.’ Ia menjawab sendiri, `Hari ini aku siap.’
Ketika kami mulai menyerang musuh, lelaki itu berada di barisan terdepan kami. Dan ketika musuh berbalik menyerang kami sehingga kami terdesak mundur, ia berada di garis pertahanan kami. Ketika kami menyerang mereka lagi, kembali ia berada di barisan terdepan kami. Dan ketika giliran mereka yang menyerang kami sehingga kami terdesak mundur, ia juga berada di garis pertahanan kami. Hal itu terus ia lakukan berulang kali, sampai akhirnya aku lihat ia tergeletak tak bernyawa. Pada tubuhnya dan juga pada tubuh kudanya aku hitung ada lebih dari enam puluh bekas tusukan senjata tajam.”
Bagi Orang Yang Menempuh Jalan Allah Ia Harus Punya Himmah Yang Menggerakkan dan Mengangkatnya Serta Memiliki Ilmu Yang Mengarahkan dan Membimbingnya.
Imam Ibnul Qayyim AI-Jauziyah Rahimahullahu mengatakan, “Sesungguhnya ketika Allah Ta’ala berketetapan mengeluarkan Adam dan keturunannya dari surga-sesuai dengan tuntutan hikmah kebijaksanaan serta rahmat-Nya-Dia memberikan ganti kepada mereka yang lebih balk dari¬padanya. Yaitu, Allah memberikan kepada mereka janji-Nya yang menjadi sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dan jalan terang yang membimbing mereka kepada-Nya. Siapa yang berpegang padanya, niscaya ia akan beruntung dan mendapatkan petunjuk. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya, niscaya ia akan celaka dan tersesat. Akan tetapi, janji yang mulia, jalan yang lurus, dan berita yang besar hanya akan bisa dicapai lewat pintu ilmu dan kehendak. Kehendak adalah pintu yang dapat mengantarkan kepadanya, sedangkan ilmu adalah kunci pintu tersebut. Kesempurnaan setiap orang, itu tergantung pada kesempurnaan pada dua hal, yakni: himmah yang mengangkatnya dan ilmu yang memperkenalkan serta membimbingnya. Sesungguhnya seorang hamba yang tidak mencapai jenjang kebahagiaan dan keberuntungan adalah karena dua hal tersebut, atau salah satunya. Mungkin ia tidak punya pengetahuan tentangnya sehingga la tidak tergerak mencarinya. Atau ia punya pengetahuan, tetapi himmahnya tidak bangkit menuju padanya sehingga la selalu tertahan pada kerendahan wataknya dan pada ketidaksempurnaan hatinya yang sebenarnya diciptakan untuk tunduk kepadanya. Akibatnya, la menjadi orang yang mengabaikan kenikmatan-kenikmatan, malas, dan lemah. Bukan menjadi orang yang diangkat derajatnya berkat ilmu, siap meniti jalan kebenaran meski sendirian, istiqamah, sangat mendambakan bisa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yang sangat menginginkan teman-teman yang mau menyertainya menempuh jalan Allah.
Kehendak yang sempurna dan ilmu yang mulia pada gilirannya akan memberikan kebahagiaan yang sejati dan kehidupan yang hakiki kepada seorang hamba. Kehendaknya akan selalu bergantung kepada Allah dan hasrat himmahnya akan menuju ke hadirat Allah Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Dan untuk mencapai tujuan paling luhur tersebut tidak ada jalan lain, kecuali dengan ilmu yang Allah berikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya yang terkasih, yang Dia utus sebagai penyeru, sebagai penunjuk jalan yang benar, dan sebagai perantara antara Allah dan manusia. Dengan izin Allah beliau mengajak mereka menuju surga, negeri kedamaian. Allah tidak berkenan membukakan pintu surga kepada siapapun dari mereka, kccuali oleh tangan beliau. Bahkan, Allah tidak berkenan menerima usaha siapapun dari mereka, kecuali sesuai dengan petunjuk beliau dan berhenti pada beliau.
Jenis-Jenis Manusia Dari Segi Kekuatan Ilmu dan Amal
Ibnu AI-Qayyim Rahimahullahu mengatakan, “Inti kesempurnaan hamba itu ada dua macam, yakni: mengetahui yang haq dari yang batil, dan mengutamakan yang haq dari yang batil.”
“Perbedaan kedudukan manusia disisi Allah baik didunia maupun di akhirat, tiada lain karena perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal itu. Orang-orang semacam itulah yang dipuji oleh Allah lewat para Nabi-Nya Alahimus Shalatu Wassalam dalam firman-Nya, “Dan, ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.”(Shaad: 45)
AI-Aydi di dalam ayat tadi berarti orang-orang yang kuat dalam melak¬sanakan kebenaran. Adapun AI-Basha’ir berarti bashirah dalam agama. Allah menyifatkan mereka sebagai orang-orang yang memiliki kesempurnaan pengetahuan tentang kebenaran dan kesempurnaan pelaksanaannya. Dalam masalah ini, manusia dibagi menjadi empat macam:
1. Para nabi. Mereka itu adalah orang-orang yang paling mulia dan go¬longan manusia yang paling terhormat di sisi Allah.
2. Kebalikan daripada nabi. Yakni orang-orang yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksana¬kannya. Mereka merupakan golongan mayoritas manusia. Memandang mereka membuat mata menjadi perih, jiwa merinding, hati menjadi sakit, dada menjadi sesak. Bergaul dengan mereka hanya mendatangkan aib dan cela.
3. Orang-orang yang memiliki bashirah dan pengetahuan tentang kebe¬naran, namun lemah dan tidak memiliki kekuatan dalam melaksanakan kebenaran dan tidak mampu menyeru kepadanya. Ini adalah keadaan orang Mukmin yang lemah. Sementara orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mukmin yang lemah.
4. Orang yang tidak memiliki kekuatan, hasrat, kehendak, dan juga lemah bashirahnya tentang agama. Mereka hampir tidak mampu membedakan antara wali Ar-Rahman dan wali setan. Dia menganggap semua yang hitam adalah buah korma, menganggap setiap warna putih adalah lemak, menganggap infeksi sebagai lemak, dan menganggap obat pena¬war sebagai racun.
Tidak ada yang layak dijadikan pemimpin dalam agama dan mendapatkan posisi yang sangat terhormat tersebut, selain golongan yang pertama. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. ” (As Sajadah: 24)
Allah mengabarkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka mendapatkan kepemimpinan dalam agama. Mereka ini merupakan orang¬orang yang dikecualikan di antara orang-orang yang merugi. Bahkan, Allah bersumpah demi masa bahwa selain mereka adalah orang-orang yang merugi. Allah Ta’ala berfirman,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjahan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. “
Ibnul Qayyim Rahimahullahu juga mengatakan, “Di antara manusia ada orang yang memiliki kekuatan ilmu, yang mampu membuka mata hatinya untuk melihat jalan kebenaran, letaknya, tanda-tandanya, kendala-kendalanya, dan rintangan-rintangannya. Hal tersebut merupakan satu satu di antara ke¬kuatan yang mendominasinya. Akan tetapi, di sisi lain la lemah alias tidak punya kekuatan amal. la memang melihat kebenaran, namun la tidak mau mengamalkan tuntutannya. la melihat kerusakan, hal-hal yang menakutkan, dan hal-hal yang menghancurkan, namun ia tidak mau bersikap hati-hati menjaganya. la memang seorang ahli fiqih ketika tidak sedang berhadapan dengan amal. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan amal, la mundur bersa¬ma orang-orang bodoh. Namun, berbeda dengan orang-orang bodoh dalam hal ilmu. Itulah problem yang sering dialami oleh orang-orang yang terlalu fokus pada masalah ilmu saja. Orang yang selamat ialah yang selalu dijaga oleh Allah, dan tidak ada kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah.”
Di antara manusia ada juga orang yang memiliki kekuatan kehendak amal yang luar biasa sehingga mampu mendominasinya. Bahkan, kekuatan ini menuntutnya berperilaku zuhud yang salah di dunia, cenderung mengutamakan akhirat, dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Akan tetapi, pandangannya buta terhadap kerancuan-kerancuan dalam akidah, dan penyimpangan¬pcnyimpangan dalam bentuk perbuatan dan ucapan. Kalau orang yang pertama tadi akalnya lemah ketika berhadapan dengan kesenangan-kesenangan nafsu, maka orang model ini kalah karena memang bodoh. Penyakit yang pertama berasal dari kehendaknya yang rusak serta akalnya yang lemah. Inilah yang lazim dialami oleh para ulama sufi yang tidak menempuh jalan ilmu, melainkan jalan perasaan, batin, dan tradisi. Ada di antara mereka yang ti¬dak tahu apa yang dicari? Tidak mengerti kepada siapa ia beribadah? Bah¬kan, la tidak paham berdasarkan apa la beribadah. Terkadang ia beribadah berdasarkan perasaan dan batinnya. Terkadang la beribadah berdasarkan tradisi kaumnya dan juga teman-temannya. Misalnya, temannya mengharuskan memakai pakaian tertentu, menjulurkan celana melampaui mata kaki, mencukur jenggot, dan lain sebagainya. Terkadang pula ia beribadah berdasarkan pengaruh situasi yang diciptakan oleh sebagian orang-orang yang sok tahu, padahal tidak ada dasar¬nya sama sekali dalam agama. Dan terkadang la beribadah berdasarkan keinginannya sendiri, apapun bentuknya. Itulah jalan-jalan sesat yang akan diperhitungkan oleh Allah, Tuhan sekalian alam.
Mereka semua itu adalah orang-orang yang buta terhadap Tuhan mereka berikut syari’at dan agama-Nya. Mereka tidak tahu syari’at dan agama Allah yang karenanya Dia mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab suci, dan tidak berkenan menerima agama dari siapapun selainnya. Mereka juga tidak tahu sifat-sifat Tuhan mereka, yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba¬Nya lewat lisan para Rasul-Nya.
Barangsiapa memiliki dua kekuatan tersebut, la akan berjalan lurus, iancar, dan kuat dalam menghadapi semua rintangan. Semua itu berkat per¬tolongan Allah. Sesungguhnya banyak sekali rintangan-rintangan mengha¬adang, yang sangat berat dan sulit. Jarang sekali yang berhasil selamat melewatinya. Seandainya tidak ada rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan, tentu jalan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang menempuhnya. Kalau mau, Allah bisa menghilangkan rintangan dan hambatan-hambatan tersebut. Allah akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Ada yang mengatakan, “Waktu adalah pedang. Kalau kamu tidak menggunakannya, niscaya la akan memenggalmu.”
Jika dalam menempuh perjalanan menuju Allah bermodalkan himmah dan ilmu yang lemah-sementara hambatan yang datang dari dalam maupun dari luar cukup banyak dan berat-niscaya hal itu merupakan usaha yang akan menimbulkan bencana, tangga yang mengantarkan pada kecelakaan, dan upaya yang mengundang kegembiran para musuh, kecuali jika Allah segera menyusulinya dengan rahmat-Nya yang tidak disangka-sangkasehingga Allah berkenan menggandeng tangannya dan menyelamatkannya dari semua hambatan tersebut. Dan di tangan Allahlah letak pertolongan.
Himmah Itu Ada di Hati
Himmah adalah pekerjaan hati, dan yang dapat menguasai hati adalah pemiliknya sendiri. Sebagaimana burung yang terbang dengan menggunakan sepasang sayapnya, manusia terbang dengan menggunakan himmah atau hasratnya yang akan membawanya ke puncak tertinggi. la lepas dari segala ikatan yang membelenggu jasad.
Biar saja kaum itu merebut kekuasaanku
dan menjerumuskan aku dalam penderitaan,
asalkan bukan hati, semangat, dan cita-citaku
Ibnu Qutaibah mengutip dari sebuah kitab tentang himmah, “Orang yang punya hasrat, jika direndahkan jiwanya akan memberontak untuk tetap naik. Laksana nyala lilin yang ditiup, lidah apinya malah akan membumbung tinggi.”
…………bersambung insyaallah…
1 Shaid Al-Khathit; oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 189, Menjelaskan maknanya is mengatakan, “Bagi orang yang memiliki harga diri sedapat mungkin is harus memiliki target yang maksimal. Artinya, jika ia merasa yakin sanggup meraih predikat sebagai nabi , misalnya (walau hal ini mustahil”, ia tidak boleh merasa puas hanya dengan rneraih predikat sebagai wali. Atau jika merasa yakin sanggup menjadi seorang khalifah, ia tidak boleh merasa puas dengan hanya menjadi seorang amir atau gubernur. Atau jika ia merasa yakin bisa menjadi raja, misalnya, ia tidak boleh merasa puas dengan hanya menjadi rakyat biasa. Dengan kata lain, ia harus mengerahkan segala jerih payah serta kemampuannya untuk meraih segala sesuatu yang memungkinkan, baik di bidang ilmu maupun amal


Tidak ada komentar:
Posting Komentar